teroueskan membina tabijah islamijah ini sesoai dengan peladjaran yang koe berikan(syekh sulaiman ar-rasully)

Tuesday, August 28, 2007

cerpen Muhammad Nasir

Harimau Terakhir Cerpen: Muhammad Nasir
"Harimau yang datang tadi malam, betul-betul harimau!"
kata Inyiak Sati

"Inyiak balang?" Tanya Palimo

"Apapun sebutannya, harimau tetaplah binatang. Sekali
binatang tetap binatang!" putus Inyiak Sati

Inyiak Sati, orang tua sepuh itu tak lagi
berkata-kata. Rokok daun tembakau dimulutnya dihisap
senikmat-nikmatnya seraya mencungkil kotoran di ibu
jari kakinya.

Diam. Tak ada yang berbicara. Asap tembakau Inyiak
Sati menjalar ke awang-awang. Ada juga yang singgah di
hidung enam pria yang datang kepada Inyiak Sati.

Oh, ya, agaknya penting juga memperkenalkan enam pria
yang minta petunjuk kepada lelaki tua yang sudah
didaulat jadi tetua kampung seumur hidup. Palimo,
agaknya ia pemimpin rombongan. Jabatannya adalah
kepala Jorong. Pengiringnya adalah Kutar, Sulan,
Saman, Masri dan Aswar. Sejak Palimo terpilih jadi
kepala Jorong, kelima tim suksesnya ini senantiasa
membuntut seperti kerbau dan pedatinya.

Enam pembesar jorong ini sengaja mengunjungi Inyiak
Sati. Mereka tahu persis, kakek tua itu meski bukan
zoologist, tahu banyak tentang harimau. Riwayat
hidupnya tidak lepas dari pergaulan liarnya denga
harimau atau inyiak baling, sebutan takzimnya. Konon
semenjak muda Inyiak Sati sering berkelahi dengan
harimau. Baik sewaktu berprofesi sebagai petani
ataupus sebagai pejuang yang sering bergerilya masuk
keluar hutan melawan kompeni. Kadang-kadang ia juga
sengaja bergelut dengan harimau sekedar mempermahir
gerak bela diri. Paling spektakuler adalah melawan
harimau jadi-jadian, jelmaan dukun kafir yang tak
pernah mandi dan sembahyang. Oleh sebab itu, masalah
harimau yang menyatroni kampung, mereka anggap Inyiak
Sati lah expert-nya.

Keheningan itu pecah juga. Seperti bisul mengkal yang
menunggu bernanah.

"Tolonglah Nyiak,pagari kampung kita" pinta Palimo.

"Iya, Nyiak" Kutar turut pula menukuk.

"Bisa habis ternak kita nantinya Nyiak" si Sulan ikut
menyela.

"Saya juga takut menakik getah Nyiak, bisa rengkah
kepala saya" Saman bicara pula.

"Konon kampung sebelah juga diserang. Ibu-ibu pencari
kayu baker sampai terkencing di celana mendengar
aumannya" Masri sekedar mencontohkan.

Sudah lima orang bermohon. Inyiak Sati seolah tidak
mendengar. Sehabis mencungkil kuku, kini ia mencabut
bulu hidung. Asap rokok sesekali ia tiupkan ke langit.
Ia menerawang seperti berpikir. Tetapi sebenarnya
tidak. Ia sedang mengamati kemana perginya asap rokok
daun enaunya. Yang tersisa kembali diam. Bahkan
anginpun tidak bertiup di ruang tertutup itu. Sampai…

"Hey, Aswar, kenapa kau menggigil?" tiba-tiba pria
gaek itu menunjuk Aswar,lelaki keenam yang belum
bicara.

Aswar tergagap.

"Anu, Nyiak, saya punya pusa-pusa di kening. Apa saya
juga diincar harimau itu Nyiak?"

Dalam pertanyaannya Aswar mengandung harap. Berita
baik dan jawaban "bukan" dari Inyiak Sati.

"Kau sudah dipilih Aswar. Ajalmu akan tiba.
Bersiap-siaplah!" jawab Inyiak Sati.

"Haaa?" Aswar terperanjat. Pantatnya melompat sepuluh
senti dari tempat semula.

"Apa usaha kita Nyiak?" kecuali Aswar, kelima pria itu
bertanya serempak.

"Entahlah". Itu saja yang keluar dari mulut keriput
Inyiak Sati.

Ia melangkah ke luar rumah. Jelas mengarah ke bangunan
kayu di samping rumahnya. Jika ada yang bertanya,
bangunan itu adalah surau Inyiak Sati, warisan ayahnya
Angku Imam.

Entah apa maksudnya.orang tua itu berputar-putar di
dalam surau kecil empat kali enam meter itu. Tumpukan
kitab kuning, alqur'an dan entah tulisan apalagi yang
ada di sana ia tepuk-tepuk. Beliau bersin. Dinding
papan tanpa cat itu juga ia guguh, dan berbunyi
bukk…bukk. Setelah itu terdengan bunyi seperti orang
pipis, atau seperti pasir berseluncur di atap. Itu
bunyi bubuk kayu. Anak-anak sini menyebutnya cirik
anai-anai.

Enam pria itu mengikuti Inyiak Sati ke dalam surau.

"Inyiak, bagaiman tentang harimau tadi?" ulang Palimo
bertanya.

"Papan ini mulai lapuk" jawab Inyiak Sati. Tentu saja
tidak menyambung dengan pertanyaan. Tetapi lelaki tua
it uterus saja bercerita.

"Dulu bapakmu sampai terkencing-kencing memikul papan
ini. Ia ikut menebang, membelah dan mengetam kayu ini.
Bapakmu punya andil membangun surau ini" kenang Inyiak
Sati.

Pernah merasakan bingung? Itulah yang dialami Palimo.
Lain ditanya lain pula dijawab.

"Kami tahu, Nyiak" jawab Palimo seadanya.

"Sudah berapa lama surau ini tidak dipakai? Tanya
Inyiak Sati.

"Kurang lebih duapuluh tahun Nyiak" jawan enam orang
itu serempak.

"Ada berapa buah surau di jorong ini selain surauku
ini?

"Dua Nyiak," jawab Palimo.

Kalau begitu kembalilah ke suraumu, rubuhkan dan
bangun surauku ini, seperti dulu.

Dalam hati Palimo, mengumpat "gaek tea". Tapi ia
teringat masa kecilnya.

Surau Inyiak Sati adalah tempat ia mengaji alif-ba-ta.
Tempat ia tidur sewaktu jejaka. Tempat Kak Ciah dan
Uwan Sirun menyelesaikan perkara rumah tangga. Tempat
bersaksi orang yang melakukan pagang gadai pada
hartanya. Tempat orang berdebat masalah adapt. Hampir
semua urusan pribadi atau bersama terjadi di surau
ini. Bukan apa-apa, semua hanya karena Inyiak Sati
berdiam di surau ini. Tak sekalipun ia mau pergi ke
balai nagari atau ke kantor desa. Meski parewa, Inyiak
Sati tak kalah dalam bidang agama. Makanya ia berani
tinggal di surau.

Sekarang surau itu tidak berfungsi. Tak sekalipun azan
terdengar dari surau ini. Apa sebab? Inyiak Sati tak
tinggal lagi di surau sejak Surau Baru berbahan batu
dan semen di bangun di Balik Air, kampung seberang
surau Inyiak Sati, masih di jorng yang sama. Kata
orang-orang sebelum membangun surau bariu, surau
Inyiak Sati sudah sempit. Tak muat lagi untuk
bersembahyang orang se jorong.

Setelah dibangunpun, Surau Baru tak pernah ramai.
Sedikit saja orang yang sembahyang. Tak ada yang mau
tetap menjadi imam. Imam sembahyang adalah orang yang
dulu tiba di surau kemudian didaulat jadi imam.
Kadang-kadang orang teringat Inyiak Sati. Sejak pagi
hingga malam hari ia tak pernah henti datang ke surau.
Menjadi imam dan mengajar mengaji.

Inyiak Sati tak pernah datang ke Surau Baru. Dingin,
katanya. Maklum Surau Baru sudah permanent. Berdinding
bata berlantai semen. Surau Baru langsung diresmikan
bupati.Sejak itu pula Inyiak Sati tak berpenghuni.
Sekarang Surau Baru itu disuruh rubuhkan. Orang tua
edan. Begitu pikir Palimo.

"Rubuhkan Nyiak? Kenapa? Itukan surau permanent?"
protes Palimo.

"Ya. Kalian tea. Sudah jelas kampung kita dingin,
dibangun pula surau batu. Itu bukan surau, tetapi
ngalau batu. Masuk angin lah kalian!" Inyiak Sati
memaki-maki.

"Tapi Nyiak" Palimo mencoba protes.

"Tak ada tapi-tapian, kerjakan!" pangkas Inyiak Sati
pertanda protes ditolak.

"Bagaimana Harimau itu Nyiak?"

"Sekali binatang tetap binatang!" Inyiak Sati seperti
bersemboyan.

Pembicaraan usai.

***

Malam harinya, sesudah Isya'. Tak biasanya Palimo
menjadi Imam. Gara-gara harimau seekor ia terpaksa
berkumpul dengan beberapa orang yang dianggap perlu.
Membahas bagaimana caranya membujuk Inyiak Sati.

Ada sembilan orang pria termasuk Palimo. Apa cerita
mereka?

"Apa kalian mendengar auman harimau senja tadi?" Tanya
Palimo.

"Ya," jawab seseorang. Yang tujuh lagi
mengangguk-angguk pertanda iya.

"Menyedihkan sekali. Mungkin harimau itu sedang lapar.
Tapi kenapa ia melenguh melengking setinggi langit?"

Tidak ada yang menjawab. Palimo gelisah.

"Sebelum ke surau, tadi saya singgah ke rumah Inyiak
Sati. Tapi orang tua itu tak di rumah" Palimo
bersandar ke dinding. Kiblat berada di sisi kirinya.

"Saya kehilangan seekor kambing" kata seseorang.

"Korban mulai jatuh!"

"Apa usaha kita? Hey kalian cobalah berpikir. Sudah
mati otak kalian rupanya, semprot Palimo.

"Kemana Inyiak Sati?"

"Entahlah, saya sudah tanyakan kepadaTek Ciah. Tidak
tahu. Besok ia pulang, kata bininya itu"

Palimo mencaplok rokok di tangan seseorang. Ia merokok
mencari inspirasi.

"Aku tahu perangai gaek itu. Kalau ia perintahkan
memperbaiki suraunya, pasti ada gunanya. Tetapi yang
aku tak mengerti, kenapa Surau Baru ini harus
dirubuhkan? Apa pikiran kalian?" tawar Palimo.

Lama berdebat, tak seorangpun yang tahu apa maksud dan
tujuan dari perintah Inyiak Sati itu. Kalau membangun,
bolehlah bisa diterka manfaatnya. Tetapi kalau
merubuhkan, tak ada terlihat kegunaannya. Namanya saja
merubuhkan. Pasti maknanya buruk, merusak, begitu
pikir mereka. Sampai seseorang mengusulkan….

"Begini saja, kita perbaiki surau Inyiak Sati, tapi
Surau Baru ini jangan dirubuhkan dulu, siapa tahu
surau Inyiak Sati berguna untuk mengusir harimau"

Apa pula hubungan surau dengan harimau? Tetapi tentang
yang ini tak banyak yang berdebat. Semua setuju
memperbaiki surau Inyiak Sati. Palimo bahkan
menawarkan papan yang banyak tersandar dirumahnya.

"Ini, strategi namanya. Taktik…taktiiiik…!" teriak
Palimo seperti Jendral Sudirman.

Mereka pulang dengan muka cerah. Namun rasa cemas
tidak hilang dari hati mereka. Harap-harap cemas.
Harap sampai dirumah dengan selamat. Cemas,seandainya
di jalan bertemu inyiak balang.

***

Belum selesai ayam jantan berkokok, Palimo sudah
gerilya dari rumah kerumah. "Gotong royong ke Surau
Inyiak Sati!" itu saja perintahnya.

Singkat cerita, saat tanah sudah terlihat wujudnya,
saat embun sudah pasti pergi meninggalkan bumi, saat
itu pula terkumpul puluhan laki-laki yang dikenai
wajib goro berkumpul di surau Inyiak Sati. Tetapi
masalah muncul lagi. Ke mana Inyiak Sati? Kurang
taratik namanya membongkar surau Inyiak Sati tanpa
seizinnya. Meskipun pekerjaan ini atas permintaan yang
bersangkutan.

Hari makin tinggi. Kopi sudah lama terhidang. Yang
tersisa cuma ampas di ekor teko. Inyiak Sati belum
juga berhasil ditemui. Orang tua itu bagai hilang di
telan bumi. Palimo gelisah. Warga peserta goro mulai
macam-macam ada yang mengancam akan pulang, bila
pekerja belum dimulai. Beberapa orang mulai minta
tambah kopi. Ada juga yang minta dibelikan rokok.
Bahkan ada yang minta nasi. Palimo mulai tak enak
hati. Matahari tegak tali.

Elang memekik di angkasa. Induk ayam mulai menyurukkan
anaknya satu persatu di bawah perut dan ketiaknya.

Seiring pekik elang, terdengar bunyi menggelegar di
dalam surau Inyiak Sati. Suara dinding papan dihantam
mortir.

Orang-orang yang berkumpul di halaman surau tergagau.
Ada yang menyebut abak mandehnya. Ada yang menyebut
nama tuhan. Ada yang memegang dadanya berharap tali
jantungnya tidak ada yang putus. Palimo cepat
mengendalikan diri, melihat ke dalam surau.

"Ondeh mandeh!" Palimo tergagau untuk kedua kalinya.
Mukanya pias, putih seperti telapak kaki.

Sesosok wajah yang bersirobok dengan wajah Palimo itu
adalah wajah Inyiak Sati.

"Ada apa Nyiak? Terlongsong benar garah Inyiak" sesal
Palimo.

"He…he…maaf, ketika saya masuk dari pintu samping,
engselnya lepas. Pintu terhempas" Inyiak Sati tertawa
puas.

"Ini, bukalah!". Inyiak Sati menyodorkan bungkusan
daun pisang.

"Apa itu Nyiak?" tanya Palimo.

"Telinga Harimau! Simpan baik-baik. Ini harimau
terakhir di kampung kita. Setelah ini, aku tak akan
berburu lagi"

Muka Palimo membesar saking gembiranya.

“Oh, ya, sampaikan juha ke orang-orang, seekor
kambingnya dimakan harimau. Aku yang memberikan”
Inyiak Sati kembali menyulut sebatang rokok.

"Hoyy, harimau itu sudah mati!"

Orang-orang berteriak kegirangan. Ronaldo baru saja
menjebol gawang Atletico Madrid. Penonton bersorak.
Begitu pula euphoria di halaman surau Inyiak Sati.

"Sekarang, kerjakan surauku. Ini adalah surau terakhir
yang dibangun di kampung ini. Jangan ada lagi surau
sesudah ini. Surau ini adalah kenang-kenanganku untuk
kalian. Surau kalian itu hanya gedung batu. Tak ada
artinya" perintah Inyiak Sati.

Semua orang bekerja dengan rajinnya. Kaki jadi kepala,
kepala jadi kaki. Begitulah, kalau orang bekerja
dengan sukarela. Sebentar saja, surau itu selesai.

Surau Inyiak Sati tegak seperti baru. Orang-orang
terperangah kelelahan. Tak sadar mereka, saat bekerja
tadi Inyiak Sati sudah tersandar di tonggak pagar.
Palimo berjalan menuju Inyiak Sati. Ia akan menanyakan
kenapa Surau Baru harus dirubuhkan? Sekarang surau
Inyiak Sati sudah berdiri.

Inyiak Sati diam seperti tidur nyenyak. Lelaki tua itu
tak bereaksi. Palimo mencoba menyentuhnya. Inyiak Sati
diam saja. Meski matanya tertuju ke arah suraunya, ia
tak melihat apa-apa. Inyiak Sati tak bernyawa.

Palimo tak mendapat jawaban apa-apa tentang semuanya

                                              
               Padang, 10 Agustus 2007



Tentang Penulis

Muhammad Nasir,  lahir di Medan 15 Mei 1977. Alumni
Sastra Arab IAIN Imam Bonjol Padang. Menulis Cerpen
dan Puisi sejak 1993 yang tersebar di koran lokal
Sumbar, seperti  Mimbar Minang, Padang Ekspres, Harian
Singgalang dan Haluan. Di samping menulis Cerpen dan
sajak, juga menulis artikel dan opini yang beraroma
human interest. Alamat Subag. Humas IAIN Imam Bonjol
Jl.Prof. M.Yunus Padang, Telp/HP. 08126712099. email :
kbsati3@yahoo.com



Sunday, August 12, 2007

TAN MALAKA: PAHLAWAN OFF THE RECORD

TAN MALAKA: PAHLAWAN OF THE RECORD

Oleh: Muhammad Sholihin

(Alumni MTI Candung 2003)

“Namun sejak orde baru, namanya (Tan Malaka) dihapus dalam pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah. Gelar pahlawan nasional itu tidak pernah dicabut. Tetapi dalam buku teks sejarah ia tidak boleh disebut. Atau menurut istilah seorang peneliti departemen sosial, Tan Malaka menjadi “off the record’ dalam sejarah Orde Baru”

(Asvi Warman Adam)

Dalam kancah perjuangan bangsa Indonesia menuju bangsa yang merdeka, Tan Malaka mempunyai posisi yang sejajar dengan Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Agus Salim. Namun sejarah sang penguasalah yang menengelamkan Tan Malaka ke dalam lumpur sejarah yang diciptakan oleh kekuasaan. Dalam konteks ini tidaklah berlebihan jika dikatakan “sejarah adalah milik orang yang berkuasa”.

Ketika sebuah rezim mulai menunjukan kuasa, maka dari segala arah para Hulubalang dan Pangrehpraja menunjukan kesetiaannya dalam aneka ragam bentuk. Mereka menciptakan sejarah dengan cara memanipulasi data dan argumen untuk kekuasaan itu sendiri. Peranan Soeharto yang mengecilkan peranan Sultan Hamengkubuwono IX dalam serangan umum atau terpublikasinya gambar “Soeharto bersama Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam suatu upacara,” suatu contoh mungkin masih kita ingat. Tiadanya kebebasan intelektual yang membentengi kaum terdidik dalam menyatakan kebenaran sejarah. Jika pun terdapat “pahlawan” ia dapat dikalahkan oleh mesin politik kuasa. 32 tahun kuasa rezim Orde Baru berkuasa telah menebarkan ketakutan luar biasa—kuasa-Nya telah mengintimidasi nalar setiap orang (Zulhasril Nasir, 2007: vii). Seorang Tan Malaka telah dilenyapkan dari pentas sejarah oleh kekuasaan rezim Oder Baru, soalnya, dengan peristiwa testemen yang dilakukan oleh Tan Malaka terhadap Soekarno, ia mesti dilenyapkan dari memori rakyat. Walhasil, tidak tangung-tangung Tan Malaka seolah-olah diterkam zaman dan tengelam dalam hiruk pikuk pengkaburan sejarah oleh penguasa. Bahkan, dirahim tanah kelahirannya ‘Minangkabau’ kiprah Tan Malaka mulai redup dalam ingatan generasi Minang, siapakah yang salah?.

Dalam pentas perjuangan, Tan Malaka bukan saja seorang prajurit yang pernah mengangkat senjata menghapus telapak penjajah dari Indonesia. Tetapi unik, dalam epos perjuangannya, Tan Malaka telah melahirkan karya-karya yang luar biasa dan dalam petilasannya telah membuat kagum peneliti-peneliti dari mancanegara akan ketajaman pena-nya dan hujaman pikirannya yang menyentuh langit-langit perjuangan revolusinya. Dalam catatan dan masih bisa ditemui, ada beberapa karya briliant Tan Malaka yang masih menjadi referensi di Indonesia dan di mancanegara, seperti, Madilog, Merdeka 100 %, Gerpolek, Dari Penjara ke Penjara, Massa Aksi dan Uraian Mendadak. Tan Malaka sebagai seorang pejuang yang lahir dan dibesarkan dari rahim Minangkabau telah menorehkan sejarah perjuangan bangsa yang unik dan aktual akan selalu berbekas dalam memori generasi yang masih mau menerima, dan membaca siapa gerangan Tan Malaka.

Dalam pentas sejarah, Tan Malaka dinilai sebagai pahlawan nasional yang mempunyai mobilitas perjuangan yang tinggi dan terpanjang. Alasanya 30 (tiga puluh) tahun mobilitas perjuangan Tan Malaka tanpa henti, baik dalam negeri maupun diluar negeri dan tercatat berjuang dalam lintas internasional dalam rangka melakukan agitasi terhadap dunia, agar Indonesia merdeka 100%. Tercatat Tan Malaka pernah menginjakkan kakinya di dalam negeri, dari Pandan Gadang (Suliki), Bukit Tinggi, Batavia, Semarang, Yogya, Bandung, Kendiri, Surabaya. Di luar negeri mulai dari Amsterdam, Berlin, Moskow, Amoy, Shanghai, Kanton, Manila, Saigon, Bangkok, Hongkong, Singapura, Rangon, dan Penang. Hampir tidak ada pahlawan nasional yang memiliki mobilitas sepanjang Tan Malaka, namun “kenapa dalam sejarah, ia dilenyapkan dari memori rakyatnya?.

Redup di Negeri Sendiri, Bercahaya di Negeri Orang

Adanya benarnya kata peneliti, bahwa Tan Malaka adalah pahlawan yang “off the record” dalam sejarah orde baru. Hal ini bertitik tolak dari literature yang terbilang minim mengkaji epos perjuangan Tan Malaka atau pun pemikiran-Nya. Sudah dipermaklumi, karena Tan Malaka di mata rezim Orde Baru adalah pemberontak yang ingin meruntuhkan negara Republik Indonesia dan serta merta yang berhubungan dengannya dilenyapkan dan dikaburkan oleh kekuasaan. Cap ‘seorang pemberontak’ bagi Tan Malaka bermula ketika Tan Malaka berupaya mendirikan Negara Demokrasi Indonesia pada momentum Belanda masuk ke Yogyakarta 19 Desember 1948. Ketika itu, diumumkan bahwa Soekarno-Hatta tertangkap. Dengan alasan bahwa Presiden dan Wakil Presiden sudah tidak ada, Tan Malaka memproklamasikan berdirinya GPP (Gerakan Pembela Proklamasi) di atas Gunung Kawi. Lahirlah kemudian Gerakan Kawi Pact yang bertujuan untuk meneruskan cita-cita komunisme ala Tan Malaka. Ia memproklamasikan berdirinya Negara Demokrasi Indonesia dengan dalih, bahwa pemerintah RI Soekarno-Hatta sudah tidak ada. Pengumuman berdirinya Negara Demokrasi Indonesia, sekaligus dilakukan dengan penunjukan dirinya sebagai Presiden, dengan mengangkat Kolonel Warrow sebagai Menteri Pertahanan dan Mayor Sabaruddin sebagai Panglima Besar GPP (Dalam Nur Hadi, 2006). Atas alasan inilah, Tan Malaka dicap sebagai pemberontak oleh rezim yang berkuasa dan siklusnya, Tan Malaka harus rela dipenggal dari pentas sejarah kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Di luar konteks di atas, seorang pahlawan yang berjasa dan telah turut andil dalam membangun cita-cita kemerdekaan, ia tidak akan pernah mati dalam mata sejarah, walau bagaimana pun kuasa menguburnya dalam lumpur, akan tetapi ia akan senantiasa bersinar menembus dalamnya lumpur buatan kekuasaan. Dan Tan Malaka yang dikubur oleh sejarah negeri sendiri, tetapi hidup dan bercahaya dinegeri orang lewat pena para sejarahwan yang objektif menilai dan mendalami ruang-ruang misteri perjuangan yang digubah oleh Tan Malaka.

Adalah Rudolf Mrazek yang mengukir Tan Malaka lewat bukunya “Tan Malaka a Political Personality’s Structure of Experience”, Kemudian Harry Poeze telah mengabadikan Tan Malaka lewat bukunya setebal 2194 halaman dan berharga 99,90 euro. “Verguisd en Vergeten, Tan Malaka, De linkse Beweging en Indonesische Revolution 1945-1949.” Dan menjelang tahun 1980-an, terjadilah arus balik penulisan sejarah Tan Malaka terutama di Eropa, Mulai dari Belanda dengan karya Harry Poeze, sampai ke Australia yang ditulis oleh Helen Jarvis. Penulisan sejarah Tan Malaka di luar negeri ini menjadi bukti bahwa Tan Malaka bercahaya di negeri orang, dan diredupkan di negeri-Nya sendiri.

Sesuai dengan hantaran di atas, maka pantaslah pertanyaan ini dilemparkan “Apakah Tan Malaka pahlawan Indonesia? Sebab terlalu besar mengangapnya menjadi pahlawan dari bangsa yang menganggapnya kecil